Asian Brain Life

Belajar Internet Marketing bersama Anne Ahira www.asianbrainlife.com

Asian Brain Life

Belajar Internet Marketing bersama Anne Ahira www.asianbrainlife.com

AsianBrain

Monday, 21 September 2015

TIPS JADI PENGUSAHA


Kalau Anda berani tanpil beda,
itu berarti Anda memiliki jiwa entrepreneur!!


KUTIPAN di atas, sangat mungkin, mengundang senyum meremehkan. Masa, berbeda saja, sampai menjadi ciri jiwa enterpreneur. Kalimat itu terasa berlebihan. Pembaca, entrepreneur sendiri adalah dunia yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreativitasnya, tak mustahil akan terbukti bahwa ía betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang. Karenanya, ia pantas dikagumi, dan selanjutnya diikuti.
Menjadi entrepreneur kreatif di saat krisis ekonomi, tentu saja tantangan yang sangat berat. Siapa saja yang mencoba terjun menjadi entrepreneur kreatif, ia harus bekerja 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Ini masih harus dijalankan sedikitnya untuk kurun waktu sekitar dua tahun pertama. Sebuah babak baru yang berat, berjuang tanpa henti dengan berbagai tekanan fisik maupun psikis.
Bisnis modern? Apalagi!  Ia boleh dikatakan, mustahil bisa eksis dan berkembang tanpa kemampuan menciptakan sesuatu yang baru pada setiap harinya. Berpikirlah kreatif setiap hari. Dari mana ia datang? Dari mana saja, dari siapa saja. Interaksi sosial Anda, menjadi stimulan munculnya ide inovatif. Memang, tak mudah melahirkan sesuatu yang orisinal atau sama sekali baru. Bisa saja, ia adalah kombinasi “sentuhan baru”  pada karya-karya yang sudah ada. Kesan, aksentuasi disain, modifikasi, adalah bagian dari proses kreatif.
Milik siapakah kemampuan ini? Apakah ini hanya dimiliki pribadi tertentu? Tegas, kami nyatakan: tidak. Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda-beda.

Kemampuan kreatif itu terdistribusi hampir secara universal kepada seluruh umat di muka bumi ini. Kreativitas, bak sebuah mata air, jangan biarkan sumbernya mengering. Agar tetap berair, gali terus, agar “mata air kreativitas” kita tetap berair.

Raudsepp, peneliti dari Princeton Research Inc.


Kreativitas : Keharusan dalam Kewirausahaan
               
     Jangan terpaku saja melihat gemerlap perubahan! Anda, satu di antara sekian orang yang sanggup menghadirkan hal baru! Pikirkanlah hal ini sebagai kebiasaan. Karena Anda hidup dalam abad kreativitas. Kreatif adalah, kunci memenangkan kompetisi. Ada banyak konsep kreativitas. Salah satunya, mengambil inspirasi dari dunia musik, tepatnya, musik jazz. Dalam musik jazz, ada istilah jam session, saat pemusik tidak memainkan lagu tertentu, tapi alat musiknya mengalunkan paduan nada tanpa terikat lagu, bebas-mengalir saja. Jamming,  menjadi inspirasi John Kao menuangkan teorinya dalam buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, “Jamming: Seni dan Disiplin Kreativitas Bisnis”.
     Kalau jamming bisa menggelitik telinga dengan  alunan musik indah, bisnis pun, amat mungkin mengambil langkah alternatif di luar yang biasa berlaku. Hasilnya, seperti jamming dalam jazz, tetap “berirama dan enak didengar”. Begitulah analogi teori Kao dalam dunia bisnis.
  Jamming dalam bisnis, adalah ikhtiar kreatif. Ada imajinasi, totalitas berkreativitas, menyerap pendar-pendar inspirasi dari mana-mana.  Dari sana tercipta ide-ide kreatif dalam pengembangan bisnis­. Siapa “sparing partner” seorang wirausahawan dalam mengeksplotasi gagasan kreatifnya? Ia bisa sesama wirausahawan, meskipun tak ada salahnya dengan orang lain yang sangat berbeda dunia kerja  (bukan wirausahawan). 
Bekerja “serba rutin”, “manut pakem”, di level pengambilan keputusan tertinggi, terutama sebagai pusat penyikapan terhadap realitas bisnis, diyakini merupakan sebuah sikap berbahaya bagi keberlangsungan usaha. Rutinitas, pakem-pakem itu, menjadi belenggu bagi kemajuan. Namun begitu, jangan salah memaknainya. Manajemen kreativitas, bukan “anti aturan”. Aturan tertentu, harus tetap ada, tetapi keberadaannya tidak memasung kreativitas. Ada yang “ekstrim” dalam kasus pembaharuan ini. Misalnya, produsen piranti keras komputer yang mendunia, Intell. Intell, secara berkala selalu menghancurkan produk lama mereka setelah memproduksi produk baru hasil kreativitas timnya. Langkah yang serupa, meskipun “tak sengaja”  dialami perusahaan Unilever. Begitu produk barunya muncul, produk lama Unilever “otomatis” dikalahkan produk barunya sendiri.
Kalau ada contoh Intell dan Unilever di bagian ini, dua dari sekian big corporate dunia, sejatinya kreativitas tidak menjadi monopoli korporat besar. Dalam sektor usaha kecil pun, ide kreatif muncul dari perenungan dan perbincangan akan hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Justru dalam usaha kecillah, kreativitas seharusnya lebih berkembang, karena biasanya usaha kecil, punya sumber daya insani tak banyak. Ini poin lebih sehingga usaha kecil relatif lebih kompak orang-orangnya, sehingga transfer kreativitas baru bisa lekas merata. Dalam usaha berskala kecil transfer kreativitas lebih pendek jalurnya. Seorang inovator dalam tempo pendek ia bisa langsung mentransfer temuan barunya kepada semua orang yang bekerja bersamanya. Bukan mustahil, proses mentransfer temuan baru itu, sekaligus bisa memicu tumbuhnya kreativitas.


Luwes Menyikapi Peluang

Jika Anda termasuk dalam golongan orang yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, di mana orang lain tidak melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif, bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.
Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan. Keluarkan semua ide atau gagasan Anda, jangan takut diremehkan atau dihina orang. ‘Ide gila” yang Anda sampaikan, boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang. Begitu Anda mulai menuai sukses, barulah orang akan berguman, “Mengapa itu tak terpikirkan oleh saya sejak dulu, ya?”
Kalau Anda berani tampil beda, itu berarti Anda berjiwa entrepreneur. Saya setuju pendapat yang mengatakan, keberhasilan entrepreneur ibarat kesabaran dan ketenangan seorang aktor akrobatik meniti tambang tipis hingga sampai ke tujuan. Ia tidak menghabiskan waktunya dengan perasaan khawatir, tapi konsentrasinya tertuju pada tujuannya. Tak kalah pentingnya, jangan malu akan kesalahan yang kita buat. Seorang entrepreneur memang tidak menyukai kesalahan, tapi ia tetap akan menerimanya sepanjang hal itu dapat memberikan pelajaran berharga. Ia harus mampu meloloskan diri dari situasi-situasi yang hampir mustahil bisa diatasi. Dalam era global sekarang ini, kegiatan usaha yang kita jalankan hampir 90% justru tidak sesuai rencana.
Karena itu, kita harus luwes dengan rencana yang telah kita buat. Bersiaplah berpindah dari satu rencana ke rencana lainnya. Seorang entrepreneur juga tidak boleh mudah berputus asa. Ia harus yakin dengan kreativitasnya. Selalu ada jalan yang tidak pernah terbayang sebelumnya.


Proses Kreatif  Berwirausaha

Kita berani berpikir kreatif.
Itu berarti kita sudah berani mengambil risiko


SALAH satu tugas kita sebagai pengusaha, selain memiliki ketrampilan interpersonal, leadership, dan managerial, juga harus mampu melakukan tugas kreatif. Kreativitaslah, unsur penting eksis dan berkembangnya sebuah usaha. bagi entrepreneur, seolah tiada hari tanpa kreativitas. Saatnya kita terus kreatif. Apalagi, kalau di bagian sebelumnya, kerap disebut-sebut angka luar biasa pertumbuhan kewirausahaan di Amerika Serikat, di Indonesia sendiri, keragaman usaha maupun jumlah wirausahawannya, belum sebanyak di Amerika Serikat ataupun di negara lain.
     Di Amerika Serikat misalnya, ada bisnis yang masih langka dan belum memasyarakat di Indonesia, yakni bisnis menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi. Jadi sebenarnya banyak macam usaha yang bisa kita kerjakan, asal kita mau kreatif. Dalam hal apa saja, kita harus kreatif? Kreatiflah dalam beberapa hal, antara lain, memilih jenis usaha dan memilih waktu untuk memulainya.
     Maka, jangan ragu menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap unsurnya bisa kreatif. Jadikan setiap sudut, setiap suasana dalam usaha Anda, kondusif bagi munculnya ide-ide kreatif. Kreativitas itu sendiri, memang memerlukan proses, yakni proses kreatif. Jadi pada awalnya, untuk kreatif itu perlu persiapan, meski secara tidak formal. Tinggal, bagaimana kita sendiri membuat suasana kerja itu kreatif.
     Dalam prosesnya, ternyata kreatif itu juga membutuhkan konsentrasi kita. Padahal, yang kerap terjadi, saat kita melakukan konsentrasi, malah menemui jalan buntu. Akibatnya, kita tak bisa berbuat apa-apa, dan berangsur-angsur menjadi frustrasi. Dan, sebenarnya frustasi itu merupakan bagian dari proses kreatif itu sendiri.
     Dalam kondisi inilah, menurut saya, sebaiknya kita tidak menyerah atau putus asa. Jangan berhenti sampai di situ. Yakinlah, pada saatnya, wawasan atau iluminasi akan muncul. Kemudian, kita melewati proses kreatif berikutnya: inkubasi atau pengendapan masuk ke dalam alam bawah sadar. Pada saatnya, yaitu pada kondisi yang tidak disengaja, bisa saja muncul iluminasi itu artinya ide kreatif telah kita temukan.
Langkah penting untuk ini, mengolah atau menjalankan ide kreatif menjadi konkret, demi kemajuan bisnis kita. Bahkan menurut kami, demi kepuasan pelanggan pun, perlu pendekatan kreatif. Kreatif, juga kata kunci dalam urusan mencari modal atau dana pengembangan usaha, peningkatan kegiatan produksi, perbaikan desain, pemasaran, dan lain sebagainya.

            Orang kreatif, adalah orang yang berani mengambil risiko. Hanya tinggal seberapa besar sebenarnya kualitas kreativitas itu akan mempengaruhi risiko usaha yang dijalankan. Bahkan, seseorang yang berani berpikir kreatif, berarti dia sudah berani mengambil risiko. Kami pun yakin, hanya pengusaha yang berani mengambil risiko itulah yang usahanya dapat berkembang maju, baik untuk saat ini ataupun untuk masa depan.


CARA MENCIPTAKAN BUDAYA WIRAUSAHA

Menciptakan  Masyarakat
Berbudaya  Wirausaha


  
Lembaga Manajemen FE UI pada tahun 1987  melakukan penelitian  dan berhasil merumuskan beberapa permasalahan utama yang dihadapi SME (small medium enterprises): 1. Sebelum investasi masalah permodalan: kemudahan usaha (lokasi dan perizinan); 2. Pengenalan usaha: pemasaran, permodalan, hubungan usaha; 3. Peningkatan usaha:  pengadaan bahan/barang; 4. Usaha menurun karena: kurang modal, kurang mampu memasarkan, kurang keterampilan teknis, dan administrasi; 4. Mengharapkan bantuan pemerintah berupa modal, pemasaran, dan pengadaan barang; 5. 60 % menggunakan teknologi tradisional; 7. 70 % melakukan pemasaran langsung ke konsumen; 8.Untuk memperoleh bantuan perbankan, dokumen-dokumen yang harus disiapkan dipandang terlalu rumit.

  
Pembaca, melakukan switch mental, dari mental ambtenaar ke wirausahawan, bukan soal mudah. Tapi juga, ia bukan sesuatu yang luar biasa sulit. Terlalu lama meyakini, berwirausaha itu sulit, membuat orang cenderung mematikan potensinya. Persis data tahun 1987 di awal bab ini: semua terlalu rumit!
Tahukah Anda, sejumlah orang yang sudah merasa dirinya terlalu lama menjadi orang gajian,  mulai tergelitik untuk memiliki usaha sendiri. Keinginan itu diperkuat dengan sering membaca profil sukses wirausahawan yang jumlahnya terus bertambah. Hasilnya, kebanyakan dari mereka kian yakin mereka akan memilih menjalankan usaha sendiri. ”Jiwa wirausaha”, harus dikembangkan di tengah masyarakat, karena manfaatnya bukan hanya bagi sang enterpreneur tapi juga untuk penyehatan perekonomian masyarakat umumnya. Organisasi, sebaiknya mulai menata diri untuk memiliki budaya kewirausahaan. Berikut ini beberapa diantara syarat pencapaiannya.

Kepercayaan dan Kebersamaan

Budaya organisasi harus mencakup ‘pertumbuhan’ kepercayaan timbal balik antar individu di dalamnya.  Dalam organisasi berdasar hubungan, orang tidak diatur, tetapi mereka diperlakukan sebagai individu yang layak dipercaya yang berkeinginan untuk membaktikan waktu dan tenaga mereka pada apa ”yang ingin mereka lakukan” dan ”yang harus mereka lakukan”, karena mereka memahami tidak ada pemisah antara keduanya. Jelasnya, harus terdapat jiwa kepemilikan bersama dalam sebuah organisasi,  yang membuat individu di dalamnya memiliki komitmen mengoptimalkan kerja. Komitmen semacam itu adalah kondisi yang baik untuk memulai investasi dalam bisnis, sekaligus mengapresiasi sebuah semangat wirausaha yang muncul ditengah-tengah masyarakat.

Pembelajaran Kepemimpinan Wirausaha

Ada yang dihantui rasa berat, bahwa keragaman amat sulit beroperasi secara sepakat dalam menerapkan strategi pokok. Menurut kami, yang diperlukan adalah kesanggupan untuk sepakat memanfaatkan seluruh kekuatan, saling melengkapi dalam sebuah ikhtiar kesatuan tujuan. Dengan kepemimpinan semacam ini fokus keberhasilan sudah jelas. Tanpa itu, keragaman memang menjadi ”hantu” penghambat pencapaian tujuan. Kata simpulnya, tidak lain:

Keragaman yang mencapai kesepakatan bulat, melengkapi kekuatan para pemimpin untuk mencapai tujuan yang mempersatukan.

Saling Sokong Inisiatif Wirausaha

Kebanyakan organisasi mapan beroperasi dibawah kepemimpinan yang terpusat. Desentralisasi bisnis yang melahirkan unit-unit yang terpisah, dibangun di bawah arahan penyokong yang terpilih dan berkemauan untuk mendukung insiatif-insiatif ini. Sokongan ini, tentu saja, harus berasal dari tingkat tertinggi dengan kemampuan pengambilan keputusan penuh.
     Kegiatan pendampingan penasihat, penyokongan dan pemberdayaan penting dalam mendukung para wirausahawan dalam unit bisnis yang baru. Para penyokong/pendamping, menyediakan sumber dan saluran untuk pengembangan kewirausahaan dan belajar, serta diterapkan secara konsisten.

Arahkan Tim Wirausaha

Sebelum menyinggung “arahan”, kita kenali tim wirausaha. Butir-butir berikut ini, menjelaskan tim wirausaha:

 Dimotivasi oleh rangsangan kesempatan pasar yang telah diidentifikasi untuk dikejar.
 Kualitas tim wirausaha adalah faktor yang menentukan sukses dalam perusahaan yang sangat menguntungkan. Suatu tim wirausaha terdiri dari anggota pendiri suatu perusahaan baru atau unit bisnis sokongan.
 Penting bahwa suatu tim diperlengkapi peningkatan kekuatan dan pengetahuan. Merupakan tugas pimpinan wirausaha untuk menyatukan dan menumbuhkan lapisan-lapisan ini menjadi tim kerja yang terintegrasi.
 Cara pikir yang beragam, dilengkapi “kekuatan” dan “kesepakatan untuk tujuan yang dominan”, penting bagi tim yang tepat sebagaimana campuran “keterampilan manajemen” dan “wirausaha”.
 Mengandung kesetiaan dan kepercayaan, efektivitas kerja kelompok pengambil keputusan
    
Saat menyusun tim yang spesifik dalam sebuah perusahaan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai tambahan adalah :

 Apakah si calon memiliki pengalaman dalam industri spesifik itu?
 Apakah mereka memiliki catatan yang membuktikan kompetensi mereka dalam inisiatif berwirausaha?
 Akankah mereka memiliki kredibilitas pada industrinya dan rekan timnya?
 Jaringan kerja atau sumber daya apa yang mereka bawa untuk tim?
 Apakah mereka termotivasi untuk menjadi bagian tim, unit dan diarahkan oleh inisiatif?



Hargailah Tingkah Laku Wirausaha
    
     Masyarakat kita sering mencemooh bila ada yang berprofesi sebagai wirausaha, terlebih bila ia berpendidikan tinggi, S2 apalagi S3. Ini tidak terlalu mengherankan karena stigma berpikir masyarakat kita yang sudah sedemikian terpola: “Setelah lulus sekolah lalu kerja!” Sangat  jarang yang berpikir, setelah lulus menciptakan pekerjaan. Manusia dalam katagori ini sering dibilang orang gila, nggak waras, bodoh dan sederetan kecaman lain. Barulah setelah berhasil, semua orang akan mendekat. Bukankah semua usaha yang dilakukan para entrepreneur sukses pada awalnya dianggap gila hingga ia berhasil?
     Karenanya ambil setiap kesempatan untuk menunjukkan pada kolega, rekan dan tim Anda bahwa Anda percaya pada mereka  dan memiliki keyakinan pada kemampuan mereka. Tinggallah dalam perusahaan dan tetap dalam kendali jika Anda suka, namun bertingkah lakulah sebagai pemimpin yang membantu dalam hubungan rekanan. Hargailah rekan Anda untuk memiliki saham dalam  perusahaan.


Bangunlah Jaringan Kewirausahaan
                
     Jaringan dan berhubungan dengan jaringan selalu merupakan fondasi kuat untuk membangun bisnis. Karena kita hidup di zaman pekerja berpengetahuan yang dioperasikan di bawah paradigma yang diarahkan oleh mutu tinggi dan hubungan baik, dasar tersebut sangat penting untuk keberhasilan.
     Dengan database berlimpah, digabung keuntungan praktis yang disediakan internet, diperoleh akses untuk berhubungan ataupun untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Sebelum era internet, belum pernah ada jalan semudah ini. Saat ini, dengan sentuhan jari, pengetahuan yang dipilih beserta detailnya dapat dikirimkan dan diterima. Tidak mengherankan inisiatif bisnis wirausaha dapat bergerak dengan cepat dan mudah tumbuh dengan baik dan kuat.
     Terlalu banyak organisasi yang memiliki unit yang menyimpan banyak hal untuk mereka sendiri dan cemas unit tetangga mencuri ide-ide mereka. Kurangnya hubungan dalam organisasi adalah alasan utama mengapa organisasi tersebut kehilangan kesempatan. Saat kekuatan semua sumber daya dibawakan bersama-sama, tercapai keberhasilan yang lebih besar. Sekali Anda melakukan kontak, pelihara mereka. Mereka adalah sumber daya wirausaha.
     Ada cerita dari sebuah sudut Jakarta, puluhan tahun silam. Saat itu, sudah masyhur,  bahwa perputaran uang terbesar di Indonesia terletak antara Glodok dan Jembatan Tiga. Konon di daerah Jembatan Tiga, ada kedai mie yang dikenal sebagai mie Toko Tiga. Di situ sering menjadi tempat mangkal para tauke. Bila ada yang ingin melakukan bisnis dan butuh uang, tak jarang mereka hanya mengambil secarik kertas bekas pembungkus rokok, menulis sedikit catatan diatasnya serta sejumlah angka dan menandatanganinya. Dengan bekal kertas bekas rokok tersebut si pembawa dapat melakukan peminjaman uang ke jaringan mereka di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Tapi jangan coba-coba mengingkari kepercayaan apalagi menipu. Sekali jalan ditutup tak kan terbuka lagi seumur hidup bahkan hingga tujuh turunan.
     Masih soal “jaringan” yang dirawat baik, ada contoh menarik tentang sumber daya modal yang mengalir dengan amat sederhana. Seorang kawan, mendapat cerita tentang bagaimana rekannya – seorang keturunan Tionghoa, secara rutin memperoleh kiriman dana segar dari rekan-rekannya. Usaha riilnya, melayani pengobatan alternatif tusuk jarum. Tapi bukan dari urusan pengobatan itu, ia memperoleh dana relatif lancar. “Bisakah kamu mengatakan, berapa orang yang benar-benar kawanmu? Lalu siapa diantara kawan dekatmu, yang rela memberimu sekadar uang pertemanan setahun sekali dengan nilai nominal tertentu. Setahun sekali, Bung. Takkan ada yang keberatan. Nah, modal saya, cuma telpon genggam dan pulsa. Saya ingatkan kawan-kawan saya, uang pertemannya tahun ini, saatnya ditransfer.” Nah, dengan mengirim pesan seperti itu, si shinse kecil-kecilan ini mendapat dana rutin, setiap hari dari orang yang berbeda. Semuanya, dari kawannya!
     Saat istri kawan saya ini sedang menanti kelahiran anaknya yang ketiga, ia dalam situasi tongpes (kantong kempes)! “Duitku cuma ada satu jutaan di tabungan. Paling sedikit, kalau istriku melahirkan normal, bisa habis sejutaan lebih. Kalau ada masalah, bisa lebih besar. Aku khawatir sekali. Lalu kuingat kawanku, si shinse itu. Semua nomor ha pe kawan yang ada dalam ha pe ku, kukirimi SMS, memberitahu mereka, saat ini aku sedang berdebar-debar menunggui kelahiran anak ketiga di rumah sakit. Habis itu, aku pasrah saja. Beberapa kawan membalas, menanyakan nomor rekeningku. Eh, tak lama, paginya, setelah kulunasi duapertiga biaya persalinan, aku masih punya tunggakan. Kujanjikan kepada petugas adminsitrasi, siang itu juga kekurangannya akan kulunasi. Kawan, tahu apa yang terjadi saat aku periksa saldo di rekeningku.  Saldo tabunganku, bertambah dua kali lipat. Lebih dari cukup untuk melunasi tunggakan biaya istri melahirkan. Bahkan esoknya masih ada beberapa transfer susulan.”
            Pembaca, kisah tauke Jembatan Tiga, shinse dengan sumbangan pertemanannya, dan kawan saya yang baru melahirkan anak ketiga itu, adalah contoh, betapa penting merawat “jaringan”. Jaringan, adalah sekumpulan individu yang memiliki rasa respek terhadap diri kita, karena kredibilitas pertemanan kita yang bisa diandalkan. Bisnis, di zaman kapan pun, akan eksis dengan kredibilitas semacam ini. Kewirausahaan, memang bukan cuma soal “uang” tapi juga “jaringan”. Dunia perubahan sosial menyebutnya sebagai social capital.

Sunday, 20 September 2015

CARA MEMULAI BISNIS 2016

Langkah-langkah memulai Bisnis Sendiri 

  
1.  Mengapa Anda memulai bisnis sendiri?


Tujuan pribadi
-   Untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri Anda sendiri
-   Untuk membangun perusahaan yang sukses dan menjualnya dengan tujuan
menghasilkan uang
Untuk membangun dan menjalankan sebuah perusahaan yang berkemhang
-   Untuk mendapat penghidupan yang lebih baik ketimbang hanya bekerja untuk mendapat upah
Untuk membangun sutatu usaha/lapangan kerja untuk anggota keluarga

Tujuan perusahaan
Bisnis
o Mulai dengan lingkup jasa yang luas, namun mengembangkan ceruk untuk pasar.
o Mulai dengan lingkup produk yang kecil dengan sasaran berkem­bang menjadi pemimpin pasar.
o Menyediakan jasa spesialis untuk  menetapkan kelompok industrinya.


Pertumbuhan
o Pertumbuhan maksimum dan penekanan, pasar dengan penahanan keuntungan.
o Membuka jaringan cabang nasional dan/atau menunjuk beberapa dealer/ distributor.
o Perkembangan terus-menerus dan terkendali serta perluasan se­jumlah x % per tahun.
o Batasan ukuran usaha untuk membatasi jumlah konsumen dan pegawai.

Staf
o Mempekerjakan keluarga dan teman-teman saja.
o Membangun tim berdedikasi yang terdiri dari penampil berkualitas tinggi, dengan penekanan pada loyalitas.
o Menawarkan bayaran dan kondisi yang sangat baik untuk mereka yang berprestasi, tanpa menyediakan tempat bagi mereka yang tak dapat bekerja dengan baik

Konsekuensi Bisnis
Terkadang menjadi konglomerat, dengan pertumbuhan yang dicapai melalui akuisisi.
o Tetap terfokus pada spesialisasi dan membangtm perusahaan de­ngan pertumbuhan internal.
o Tetap kecil dengan pertumbuhan sedikit dan berorientasi lokal.

Pertumbuhan
o Pertumbuhan perlahan karena fokus yang dangkal dan orientasi lokal.
o Mengambil banyak risiko, dengan penerimaan utang tingkat tinggi dan kemungkinan pencairan yang seimbang.
o Mengambil rlsiko yang kecil dan telah diperhitungkan untuk men­jaga/menciptakan pertumbuhan konservatif.
o Menerima beberapa sumber keuangan luar dan pemegang saham.
o Mengamhil risiko minimal, dengan sedikit pinjaman atau pemegang saham tambahan

Staf
o  Tidak ada staf, selain sedikit bantuan di saat tertentu atau subkon­traktor.
o Loyalitas seadanya dari para staf dengan tingkat turn -over yang masih dapat diterima.
o Staf yang loyal dan stabil yang diidentilikasikan dengan dan men­dukung perusahaan.
o Bisnis keluarga dengan sedikit orang luar dan keraguan untuk berkembang dengan orang luar. Sangat loyal dan nepotis.


2.  Beberapa ancaman yang terselubung

Menurut pendapat dan pengalaman saya, terdapat beberapa tuntutan, dan merupakan kesalahan yang sangat lazim dan tersebar luas yang harus di waspadai saat orang meluncurkan usaha, produk dan jasa baru :

-   Kebutuhan untuk menyiapkan komitmen 100% ( lebih ) dari usaha mereka untuk membuat usaha atau produk baru mereka berhasil.
-   Kebutuhan untuk MENDENGARKAN. Sebelum anda memulai suatu spekulasi bisnis, tanyakan pada konsumen potensial anda apakah mereka bersedia menggunakan jasa Anda.
-   Tanyakan bagaimana bisnis atau produk mungkin dapat disempurnakan.
-   Pada kebanyakan kasus apa yang ingin mereka beli berbeda dengan apa yang Anda jual.
-   Temukan apa yang ingin dibeli oleh konsumen potensial Anda.


Jangan berasumsi bahwa bisnis atau produk Anda itu  ‘barang bagus’.

Banyak oranng mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa bisnis atau produk potensial mereka adalah barang bagus, memproduksi barang yang belum pernah dicoba dan diuji dalam jumlah cukup banyak, dan menolak menjalankan riset pasan apa pun.

•  Mereka terlalu takut mengenai biasanya ‘pesaing yang menunggu di luar untuk mencuri ide mereka’ yang sebenarnya tidak pernah ada, dan kemudian menyalahkan dunia luas ketika tak ada yang mau membeli produk di tingkat konsumen dengan syarat dan konsumen yang mereka tetapkan.
•  Apakah Anda memahami kultur dan protokol industri di mana Anda ingin, menjual barang Anda?
•  Kebutuhan untuk mewaspadai realitas komersial?
•  Perlunya riset pasar,  dan riset yang terus berjalan dan pengembang­an.
•  Banyak orarg sulit menerima bahwa pengecer, dalam banyak hal akan menghasilkan lebih banyak laba dari sebuah produk diban­ding produsennya.
•  Mungkin perlu waktu berbulan-bulan hingga produk/jasa Anda terbayar.


Apakah Anda memahami bagaimana penjual dan pemasaran di dunia perdagangan berfungsi?

•  Banyak orang tanpa latar belakag penjaulan berpikir mereka dapat menjual lebih banyak dari orang-orang dengan pengalaman dan kontak penjualan dan pemasaran bertahun-tahun. Sangat jarang mereka menjual lebih banyak pada seorang sekali pun.
•  Apatisme bisnis dan publik secara umum, untuk mengubah dan menambahkan produk-produk baru.
•  Penelitian dan pengembangan terlibat dalam produk-produk baru yang paling berhasil dalam 1 hingga 3 tahun. ‘Ide cemerlang’ semalam akan membutuhkannya banyak pengembangan.
•  Perlunya anggaran periklanan dan kampanye penjualan dan pe­masaran yang terintegrasi.
•  Perlunya produk yang memenuhi harapan konsumen sebaik sesuai dengan peraturan dan standar industri dan pemerintah.
•  Perlunya menyimak konsumen potensial dan memahami apa yang mereka inginkan.
•  Konsumen sangat jarang ingin membeli tepat seperti yang Anda ingin jual.
•  Anda memerlukan daftar harga/formulir pemesanan dan syarat dan kondisi
   perdagangan yang mudah dibaca.
•  Spekulan modal bersedia menguangkan spekulan baru yang secara nyata tidak eksis.
•  Perusahaan bersedia mengalihkan sejumlah besar uang untuk ‘riset dan pengembangan’ dan ‘izin produksi’ yang secara nyata tidak eksis.


3.  Meluncurkan produk, Jasa atau ide baru Anda
Apakah pasar?

Pasar adalah orang-orang dengan:
-      Kebutuhan atau keinginan
-      Uang untuk dibelanjakan
-      Kemauan untuk membelanjakan

Tiga hal dibawah ini merupakan panduan mudah dan cepat untuk di­terapkan dalam bisnis, produk, jasa atau ide baru mana pun yang Anna selama ini Anda renungkan:

o Apakah ini merupakan pasar yang berkembang?
o Apakah produk-produk ini diperlukan oleh pasar?
o Apakah ini kendaraan bagi penjualan?


4.  Anda sebenarnya berbasis pasa bisnis apa?

Jika seseorang menanya­kan pada Anda mengenai bisnis baru Anda, mungkin Anda menjawab ‘kami menjual bor’. Bagaimana pun, apa yang sebenarnya Anda jual adalah keun­tungan yang disediakan oleh bor-bor Anda.
Tak seorang pun sungguh-­sungguh menginginkan bor—mereka ingin apa yang dapat dijalankan oleh bor itu. Anda menjual keuntungan dari bor dan memuaskan kebutuhan dari segmen khusus.

Perbedaan antara menjual dan memasarkan

Memperluas produk                              Memperluas pelanggan

Perusahaan membuat lalu membutuh-    •  Perusahaan menentukan untuk                     kan dan mengirim                                   menjual produk

Manajemen berorientasi menjual            •  Manajemen berorientasi untung

Perencanaannya berjangka pendek         •  Perencanaannya berjangka pan-

   untuk produk dan pasar sekarang               jang untuk produk baru, pasar

                                                                  mendatang  dan   pertumbuhan

                                                                  yang akan datang

 

 

5.   Apakah isu-isu ini berhubungan dengan bisnis baru Anda?


•  Apahah perubahan di pasar menawarkan kesempatan dan tantang­an?
•  Haruskah Anda memperkirakan ulang berbagai isu di sekitar bisnis Anda?
•  Haruskah Anda mengkaji ulang arah bisnis Anda?
•  Apakah bisnis Anda sudah terfokus?
•  Di bisnis apa Anda (sesungguhnya) berada?
•  Apakah permainan utamanya?
•  Apakah syarat perdagangan konsumen Anda realitis?
•  Apakah Anda membeli pembagian pasar?
•  Sudahkah Anda melihat kembali dan menetapkan peran perusa­haan Anda di milenium baru?
•  Apakah manajemen berada di seputar pelaksanaan keeja dan isu harian?
•  Atau apakah manajemen mengatur gambaran besarnya?
•  Apakah Anda memberi nilai tambah pada bisnis Anda?
•  Apakat prospektif konsumen Anda beroperasi dalam kultur berbeda dengan kebutuhan yang berbeda dengan bisnis Andea?
•  Apakah Anda menyadari kebutuhan klien Anda?
•  Apakah bisnis Anda berorientasi pada pemasaran?
•  Apakah Anda menunjukan pada dominasi pasar?
•  Sudakah Anda kehilangan obyektivitas Anda?
•  Isu lain apa yang akan dilihat orang luar sebagai hal yang penting terhadap terhadap aktivitas bisnis Anda?
•  Apakah Anda bersedia berubah?
•  Isu lain apa yang mungkin ada?


6.  Surat Langsung (Direct Mail)

Beberapa aturan umum untuk pemasaran melalui surat langsung adalah:
- Surat senilai 65 % dari 3 halaman penyerahan.
- Brosur senilai 25% dari 3 halaman penyerahan.
- Formulir pesanan senilai 10% dari 3 halaman penyerahan.
- Tingkat tanggapan 2% dapat dipertimbangkan sebagai rata-rata!

7. Bisnis baru atau peluncuran produk, penemuan produk atau ide baru

Apakah Anda memerlukan bantuan dan saran profesional dengan rnulainya bisnis baru Anda atau mewujudkan ide Anda menjadi sebuah bisnis?

•  Suatu rencana bisnis untuk mencakup produk.
•  Beberapa riset pasar dasar.
•  lnvestigasi  besarnya dan volume pasar potensial.
•  lnvestigasi dan diskusi mengenai aktivitas pesaing.
•  Desain dan dokumentasi strategi penjualan dan pemasaran sesuai dengan produk Anda.
•  Pilihan nama dagang, dan permintaan-permintaan mengenai pe­ngemasan.­
•  Nasihat dalam memenuhi tuntutan pajak penjualan.
•  Pengaturan harga grosir dan eceran serta poin harga.
•  Persiapan daftar harga yang menarik, berilutrasi, detail dan mudah dibaca.
•  lntegrasi pemasaran dengan kampanye periklanan, promosi dan publikasi.
•  Stand, pengaturan display dan literatur tempat usaha.
•  Pengaturan penjualan nasional serta jaringan kerja distribusi.
•  Menjual produk  pada tingkat pedagang grosir.
•  Penjualan, penerbitan invoice dan pengiriman barang.
•  Meraih modal perdagangan dan keuangan.
•  Menjalankan penjualan, pemasaran, dan mengiklankan produk Anda.
•  Investigasi atas kesempatan lisensi dan royalti.
•  Pengembangan pasar ekspor.
•  Pertimbangan proposal rencana cadangan.
•  Memperkirakan kesempatan sukses komersial.
•  Risiko-risiko bisnis.
•  Pengembangan berbagai biaya.
•  Apakakah produk memenuhi  tuntutan pemerlntah dan undang­-undang.
•  Isu-isu lingkunggan hidup.
•  Rentang waktu pengembalan pembayaran.
•  Penerimaan pasar.
•  Keuntungan komersial.
•  Apakat Anda cocok untuk mennjalankan perusahaan ini.
•  Apakah Anda dipersiapkan untuk perusahaan ini.
•  Apakah Anda mampu bekerja dengan modal yang amat kurang.
•  Memperkirakan kemungkinan Anda untuk bertahan hidup.
•  Kesempatan lebih lanjut untuk berkembang dan menghasilkan keuntungan.
•  Apakah produk itu mengungguli produk pesaing (Jika ya, ia memiliki 3,7 kali kesernpatan untuk berhasil.)
•  Apakah produknya benar-benar berheda dari milik pesaing? (Jika ya, ia memiliki 2,4 kali kesempatan berhasil.)

 
8.  Merencanakan Bisnis

Berikut ini adalah daftar agar dipertimbangkan pada tahap sangat awal dalam, merencanakan sebuah, bisnis baru. Jika Anda menyelesaikan satu hal, tempatkan tanda koreksi (,) di depan setiap pernyata­an.Jika tidak dapat diterapkan pada situasi Anda, ditulis “TD” di awaI setiap pernyataan. Jika terdapat instruksi lain untuk pernya­taan tertentu, sesuaikan respons Anda. Jika Anda menemukan/mengidentifikasi pernyataan tambahan untuk ditambahan pada daftar cek Anda, selipkan di tempat yang tepat. Seiring kemajuan yang Anda capai sepanjang daftar cek ini. Anda akan merasa ber­ada pada jalur Anda untuk merealisasikan bagaimana memulai bis­nis Anda sendiri.

Daftar cek: Menentukan dan merencanakan bisnis
Evaluasi motif dan kemampuan Anda untuk memulai atau mengoperasikan sebuah bisnis sebagai berikut :
Apakah Anda memiliki atau telah menunjukkan... (pilih ‘Ya’ atau ‘Tidak’)

- Kebutuhan untuk mencapai hasil
- Hasrat untuk mencari kesempatan-kesempatan baru
- Kemauan mengambil resiko
- Suatu energi tingkat tinggi
- Kemampuan memulai sendiri, berunding dan membuat kesepakatan
- Hasrat untuk menyusun strategi pusat sebuah bisnis secara pribadi pada prinsip-prinsip Anda sendiri
- Kemampuan memotivasi orang lain dan bergaul baik dengan mereka
- Dukungan dari keluarga (orang tua/pasangan)
- Tanggung jawab penting dan pengalaman kepimpinan di awal karir Anda
- Berpikir kreatif
- Kemampuan melaksanakan ide—ide
- Pelatihan teknis yang sehat
- Pelatihan bisnis sebelumnya dari sekolah
-Tertarik dalam meneliti konsep bisnis yang di tawarkan
- Model peran yang kokoh atau mentor
- Keterampilan dan kecerdasan berpolitik dalam sebuah organisasi
- Kemampuan menyesuaikan gaya manajemen untuk saat-saat tertentu
- Pelatihan manajemen khusus di luar tugas
- Integritas dan kejujuran
- Kemampuan kepemimpinan
- Rajin dan ketahanan
- Pengendalian diri
- Kemampuan merencanakan dan melihat jauh ke depan
- Bakat dan hasrat bagi aktvitas bisnis terfentu
- Ambisi dan etika kerja yang kokoh
- Kecerdasan dan pola pikir pembelajaran yang berkesinambungan 
- Keterampilan berkomunikasi secara efektif     
- Kemampuan mengambil keputusan yang sehat
- Kemampuan untuk mendelegasikan secara efektif
- Uang yang disimpan untuk diinvestasikan dalam bisnis

Semakin banyak kualitas yang Anda miliki, semakin besar
Anda dapat secara berhasil memulai dan menjalankan sebuah
bisnis


Sebuah Analisa SWOT

Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, Ancaman
Sebagai bagian dari proses peren­canaan bisnis, suatu analisa dan tin­jauan atas Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan dan Ancaman (SWOT) suatu organisasi harus dilakukan. Ini dapat membantu manajemen dalam mengidentifikasi kompoten­si, keterampilan, kultur dan sumber daya organisasi yang membedakan­nya dari yang lain.

Di bawah ini adalah analisa SWOT yang mungkin menjelaskan tentang toko furnitur

KEKUATAN                                           KELEMAHAN

• Berada di tempat yang mudah             • Tak ada bisnis lain yang mendukung
   terlihat, jalan utama, lokasi di kota          di daerah sekitar
•  Telah menetap di lokasi yang sama      • Tempat parkir terbatas
    sama selama 10 tahun                      • Hanya dapat diakses dari satu sisi
•  Arus kas bisnis yang baik                      jalan saja
•  Merupakan spesialis dalam jenis          • Bangunan nampak kuno
   produk yang sedikit dan terbatas         • Ruang pamer memerlukan citra baru
•  Perputaran stock yang tinggi               • Staf penjualan kurang termotivasi
•  Simpanan yang menyedia­kan              • Sarana penjualan yang kurang me-
   modal kerja                                         madai di tempat usaha
•  Memiliki dasar konsumen, yang kuat    • Tidak ada tempat untuk menemui
                                                             penjual di tempat usaha 
•  Pengembalian yang baik atas dana      • Jenis produk terkonsentrasi
   pemilik

- Apa yang harus saya lakukan untuk mempertahankan kekuatan-kekuatan ini?
- Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini?

KESEMPATAN                                        ANCAMAN

• Merenovasi bangunan yang sekarang    • Terdapat banyak pengecer furnitur
   dan menciptakan pengembangan baru     nasional ddalam radius 3 km
• Meningkatkan jenis dan campuran pro-  • Larangan parkir yang meningkat
   duk                                                   
• Memotivasi dan melatih staf penjualan   • Meningkatnya aktivitas pesaing da-
                                                              lam wilayahnya
• Membuat kerja sama baru dengan
   dealer
• Membentuk aliansi strategis

- Apa yang dapat saya lakukan untuk menarik keuntungan dari kesempatan-kesempatan ini?
-   Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi ancaman-ancaman ini?


Bisnis Macam Apakah yang Harus Saya Jalankan?

Proses enam langkah berikut ini dapat digunakan sewaktu menentukan jenis jenis bisnis yang akan dijalankan :
Langkah 1:   Membuat Daftar Problem di Pasar
Langkah 2: Mengidentifikasi Peluang Bisnis yang Bersangkutan
Langkah 3:   Menentukan Kemampuan dan Sumber Daya yang Dibutuhkan
Langkah 4: Memproyeksikan Dimensi  Finansial dari Peluang-Peluang yang Masih Ada
Langkah 5: Membuat urutan Peluang Menurut Keinginan Pribadi, Nilai Finansial dan Penaksiran Risiko
Langkali 6: Memilih Peluang Bisnis yang akan Dikejar

Setelah Anda mengidentifikasi peluang, mengevaluasi kemam­puan Anda, dan menentukan profitabilitas potensial bagi setiap usaha bisnis, baru Anda bisa mempertimbangkan untuk memulai bisnis Anda sendiri.

Langkah 1 : Membuat Daftar Problem di Pasar

Di mulai dengan mendengar kepada pasar. Perlu membuat daftar bidang di mana kebutuhan orang-orang tidak dipenuhi dengan cukup baik atau tidak sama sekali. Terutama penting bagi Anda agar tidak membatasi diri hanya kepada satu jenis produk, jasa, atau daerah geografis tertentu. Anda harus memiliki pikiran terbuka dan dasar persepsi yang luas.

Langkah 2: Mengidentifikasi Peluang Bisnis yang Bersangkutan

Perhatian sekarang ini diarahkan kepada apakah setiap problem atau kesenjangan dapat diubah menjadi peluang bisnis. Salah satu hal yang menarik mengenai langkah ini adalah bahwa setiap problem atau kesenjangan dapat membantu terbentuknya banyak peluang bisnis yang berbeda. Ini membutuhkan pikiran yang terbuka dan ketangkasan mental.

Langkah 3:           Menentukan Kemampuan dan Sumber Daya yang Dibutuhkan
 
Proses ini dapat dipercepat dengan dua cara. Pertama, jika Anda memiliki latar belakang yang kuat untuk memulai dan mengelola suatu bisnis, Anda dapat menyewa para spesialis untuk menangani segi”teknis” bisnis. Kedua, Anda dapat mengajak seorang mitra yang mempunyai pengalaman teknis yang baik, sebaiknya dari menyewa orang lain.
 
Langkah 4: Memproyeksikan Dimensi  Finansial dari Peluang-Peluang yang Masih Ada
 
Mencakup menentukan tingkat yang diharapkan penjualan, pengeluaran, laba, prasyarat modal awal, dan  arus kas yang diproyeksikan bagi setiap bisnis.
 
Langkah 5: Membuat urutan Peluang Menurut Keinginan Pribadi, Nilai Finansial dan Penaksiran Risiko
 
Setiap peluang kemudian harus diurutkan menurut nilai finansialnya. Ini mencakup penetapan target”laba minimal atau pendapatan atas investasi”. Sekalipun peluang yang tersisa sampai kini tampak memiliki potensi laba, anda mungkin perlu mencoret usaha-usaha yang tidak akan menghasilkan tingkat  laba yang memadai untuk mentokong risiko yang ditanggung
 
Langkali 6: Memilih Peluang Bisnis yang Akan Dikejar

Jika proses enam langkah ini telah mengidentifikasi suatu peluang yang menarik, kini Anda berada pada posisi siap untuk beralih ke langkah “ketujuh”. Anda dalam membangun suatu bisnis akan memberi anda peluang masuk akal untuk mengatasi rintangan








AsianBrain